Kisah Ayah Prabowo Subianto yang Jarang Diketahui
Jakarta, NationalPostid – Pada tahun 1930-an terjadi pergolakan politik dan militer di Tanah Eropa. Anak muda Indonesia ini saat itu berusia belum masuk 21 tahun. Pergolakan itu membuatnya tertarik.
Ia pun sempat ikut latihan militer di Catalonia. Tujuannya ingin masuk ke Brigade Internasional. Sayang, ia gagal masuk ke Brigade tersebut, karena umurnya belum genap 21 tahun.
Siapa sangka, jejaknya yang gagal di dunia militer diteruskan salah satu anaknya.
Sang anak berhasil jadi jenderal militer. Pernah jadi komandan pasukan komando. Kini, sang anak Presiden Republik Indonesia. Sang anak itu bernama Prabowo Subianto.
Ya, anak muda yang gagal masuk Brigade Internasional itu adalah ayahnya Prabowo Subianto, Profesor Soemitro Djojohadikusumo yang dikenal sebagai Begawan Ekonomi Indonesia.
Soemitro dikenal sebagai ekonom idealis. Ia lima kali menjabat sebagai menteri di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Pernah tercatat sebagai anggota “lima ahli dunia” atau group of five top experts versi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Menurut buku, Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20 yang disusun Floriberta Aning S, Soemitro adalah simbol idealisme ekonom.
Dia, dikenal sebagai sosok yang konsisten mempertahankan sikap yang dianggapnya benar. Sikap tersebut membuat hubungannya dengan penguasa mengalami grafik yang naik-turun tajam.
Soemitro dimusuhi Soekarno karena mengritik kebijakan yang tidak benar. Ia juga pernah dikucilkan Soeharto karena dianggap terlalu kritis.
Siapa Soemitro Djojohadikusumo?
Soemitro lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 29 Mei 1917. Ayahnya bernama Margono Djojohadikusumo. Sang ayah merupakan pendiri BNI 1946. Setelah lulus Hogere Burger School (HBS), Soemitro berangkat ke Belanda pada akhir Mei 1935. Ia sempat dua bulan “mampir” di Barcelona, sebelum ke Rotterdam untuk belajar ekonomi.
Dalam tempo dua tahun tiga bulan, ia meraih gelar Bachelor of Arts (BA). Ini rekor waktu tercepat di Netherlands School of Economics.
Soemitro juga sempat kuliah di Universitas Sorbonne, Paris. Di sanalah karakter Soemitro terbentuk. Antara 1938-1939 di Perancis, Soemitro masuk ke kelompok sosialis dan berkenalan dengan tokoh dunia seperti Andre Malraux, Jawaharlal Nehru, Henri Bergson, dan Henri Cartier Bresson.
Dari para tokoh itu, Soemitro belajar banyak tentang pengabdian, perlawanan, keadilan sosial, dan konsistensi dalam memegang prinsip hidup.
Pada masa itu juga di tanah Eropa terjadi pergolakan politik dan militer. Dinamika yang terjadi turut menarik perhatiannya. Soemitro sempat ikut latihan militer di Catalonia, tapi gagal masuk Brigade Internasional karena umurnya belum genap 21 tahun.
Soemitro pun kembali ke Belanda untuk melanjutkan studi Gelar Master of Arts (MA) yang kemudian diraihnya pada tahun 1940.
Ketika Jerman menyerang Belanda, 5 Mei 1940, Sumitro sedang melakukan penulisan disertasi untuk gelar doktornya, di bawah asuhan Profesor G.L. Gonggrijp.
Berada di bawah tekanan pendudukan Nazi Jerman, semangat belajar Soemitro tak padam. Ia bisa menyisihkan waktu untuk aktivitasnya dalam gerakan bawah tanah anti-Nazi.
Pada usia 26 tahun, ia berhasil meraih gelar doktor dengan disertasi
berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie atau Kredit Rakyat Jawa di Masa Depresi.
Sampai akhirnya kabar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai juga kepadanya. Soemitro kemudian pulang ke tanah air.
Dalam masa pergolakan revolusi kemerdekaan, ia kehilangan dua orang adik, Subianto dan Sujono yang gugur dalam pertempuran melawan Jepang di Tangerang yang dibela dengan Tragedi Lengkong.
Tragedi itu membulatkan tekad Soemitro untuk mengabdi pada bangsanya. Ia ambil bagian dalam perjuangan di meja diplomasi untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan.
Tahun 1950-1951, ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Natsir. Kemudian ia berkarir sebagai dosen. Tahun 1955, Soemitro mendirikan ISEI atau Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.
Ia pun berjuang mewujudkan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sebagai school of economics berintegritas tinggi. Dari sanalah kemudian muncul orang-orang seperti Widjojo Nitisastro, JB Sumarlin, dan Ali Wardhana.
Merekalah yang menentukan corak pembangunan ekonomi Indonesia selama 1967-1997.
Situasi politik yang buruk pada tahun 1957 memaksa Soemitro meninggalkan Jakarta. Mei 1957 ia ke Sumatera dan bergabung dengan PRRI. Ia menjadi buron dan sempat melarikan diri ke Padang, Pekanbaru, Bengkalis, kemudian menyamar jadi kelasi kapal menuju Singapura.
Soemitro kemudian pergi ke Saigon, juga dengan menyamar sebagai kelasi kapal, lalu menuju Manila untuk melakukan kontak dengan Permesta.
Sepuluh tahun ia berada di pelarian, hingga rezim Soekarno tumbang dan Orde Baru mulai berkuasa. “You just remain yourself, and I just remain myself,” itu yang dikatakan Soemitro saat menjawab permintaan Soeharto untuk kembali ke Indonesia, pada 1967.
Ketika itu Soeharto butuh penasihat ekonomi. Pertengahan 1968, Soemitro dipilih menjadi Menteri Perdagangan hingga 1973. Keluar dari kabinet pada tahun 1978, Soemitro menjadi konsultan dan menulis buku.
Berbagai tanda penghargaan diperolehnya antara lain Bintang Mahaputra Adipradana II, Panglima Mangku Negara dari Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, penghargaan Fist Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross Of the Crown dari Kerajaan Belgia serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis.
Pada usia menjelang 84 tahun, Soemitro meninggal dunia pada Jumat, 9 Maret 2001 pukul 00.00 di Jakarta, setelah beberapa lama dirawat karena sakit
jantung. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.

