Kisah Prajurit Tempur yang Gila Baca Buku
Jakarta, NationalPostid – Semasa dia jadi tentara, dia dikenal sebagai prajurit tempur yang cakap. Komandan pasukan yang disegani dan dihormati anak buah, kawan dan lawan. Tapi meski jago tempur, dia tidak lupa akan hobinya: membaca buku.
Siapa dia? Dia Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus yang kini menjadi Presiden Republik Indonesia kedelapan.
Ya Prabowo adalah mantan serdadu. Karirnya banyak berkubang di pasukan tempur. Medan tempur berbau mesiu adalah keseharian yang dihadapi Prabowo sebagai seorang serdadu tempur.
Meski dikenal sangar dan keras dalam medan pertempuran, Prabowo juga dikenal sebagai perwira cerdas. Kecerdasannya disebut di atas rata-rata prajurit lainnya.
Tidak heran memang, karena dia datang dari keluarga yang kental dengan dunia intelektual. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo adalah salah satu pemikir ekonomi terkemuka di zamannya. Dijuluki Begawan Ekonomi Indonesia.
Mengutip buku,”Prabowo:Dari Cijantung Bergerak ke Istana,” yang ditulis Femi Adi Soemarmo, Prabowo adalah anak ketiga begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo. Berkaitan erat dengan nama Soemitro, Prabowo juga tak bisa dilepaskan dari kakeknya, Margono Djojohadikusumo, pengikut Boedi Oetomo dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) 1946.
Sementara itu saudara-saudaranya
yang lain adalah Bianuningsih Djiwandono, Maryani Le Maistre dan Hashim Suyono Djojohadikusumo. Keempat anak Soemitro lahir dan dibesarkan di kalangan intelektual. Namun, keempatnya memilih titik pijak karir yang berbeda-beda.
Nah di antara semua saudaranya, Prabowo dikenal sebagai anak yang paling doyan membaca buku. Dari koleksi di perpustakaan milik pribadi di kantor maupun di rumahnya, Prabowo paling menyukai buku tentang sejarah dan militer. Ia selalu belanja banyak buku jika bepergian keluar negeri. Itu sebabnya, buku dalam bahasa asing pun ia lumat.
Prabowo memang tak menolak buku-buku berbahasa asing. Saat dia berdinas di TNI, diantara prajurit seusianya, penguasaan terhadap bahasa asingnya terbilang oke.
Selain bahasa Inggris, Prabowo juga menguasai bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda. Wajar saja. Masa kecilnya dihabiskan di luar negeri, seperti Singapura tiga tahun, Malaysia dua tahun, Hongkong dua tahun, Swiss dua tahun, dan Inggris dua tahun.
Prabowo mengikuti ayahnya yang berpindah-pindah dalam masa pengasingan. Apapun jalan hidup yang dipilih oleh keempat anaknya, Soemitro mengaku bangga. Hingga akhir masa tugas Prabowo, Soemitro bahkan tak pernah menyesali apa yang telah terjadi pada putra kesayangannya.
Dalam wawancaranya dengan Tempo, pada tahun 1999, Soemitro sempat berujar, “Dalam bahasa Jawa, ada istilah wiryo kencono, seorang anak, biar dia seperti sampah pun, tetap harus kita banggakan.”
Prabowo sendiri menyelesaikan bangku sekolah menengahnya di usia 16 tahun di American School di London, Inggris. Konon, Prabowo terkenal rewel di kelasnya. Untuk itu, ia “dihukum” dengan dinaikkan kelasnya ke satu level yang lebih tinggi.
Lulus sekolah di usia yang lebih muda ketimbang teman-teman sebayanya, Prabowo kemudian diterima sebagai mahasiswa di tiga universitas di Amerika Serikat. Salah satunya adalah Universitas Colorado.
Namun kuliah di usia muda justru mencemaskan Soemitro. Menurut Soemitro, tak baik secara psikologis bagi Prabowo bila duduk di bangku kuliah di usia yang begitu muda. Untuk itu, ia mengirimkan Prabowo kembali ke tanah air dan memintanya menunda keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Tetapi yang ada di benak Prabowo rupanya berbeda dengan Soemitro. Ditariknya Prabowo dari Inggris itu justru mencuatkan kembali cita-cita lama Prabowo, yaitu sekolah di bidang militer.
Awalnya, Soemitro yang rewel. Kata Soemitro “Ada banyak hal terjadi-demonstrasi mahasiswa, Orde Baru.” Kemudian dijawab oleh Prabowo, “Saya ingin menjadi bagian dari itu. Saya ingin kembali.”
Keukeuh dengan pendiriannya, Prabowo pun melanjutkan sekolahnya di Akademi Militer sebagai Taruna Akabri Darat Magelang, hingga ia lulus dari Akmil pada tahun 1974.


